CONTRIBUTOR

Lihat semua
LIFE & HAPPINESS
Bahagia itu Sederhana, Ini Kisahku Saat Mengunjungi Panti dan Berbagi Cinta
1.3K
"Kalau hari ini kita bisa membuat 1 orang saja menjadi sedikit lebih berbahagia karena kita, maka hari ini sudah merupakan hari yang baik" - Merry Riana

Resiko menjadi salah satu mahasiswa psikologi itu ya seperti ini, jam tidurnya gak menentu, bisa dipastikan juga bakalan jarang untuk bisa tidur. Bagaimana tidak, kerjaannya pergi terus untuk mencari data. Hampir setiap hari disibukkan dengan mencari subyek, tempat, menyebarkan angket, kuesioner, mengobservasi, dan mewawancari subyek. Belum lagi harus mencari dan membaca buku, referensinya harus yang dari luar, bukan yang hanya mengandalkan buku terjemahan. Tidak berhenti sampai disitu, kami juga harus mencari dan membaca jurnal. Selanjutnya, bukan anak psikologi namanya kalau mainannya gak ke perpustakaan dan pulang malam. Tinggal rumah saja yang kalau bisa dipindahkan disamping kampus biar mudah. Terkadang, sesampainya dirumah juga kami langsung sibuk menyelesaikan tugas yang sempat tertunda. Tugasnya pun harus diketik dengan format APA. Bisa dibayangkan bagaimana derita kami, kan? Betapa berat dan kerasnya perjuangan yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar S1 Psikologi.

Siang itu, aku dan beberapa temanku tiba disalah satu panti werdha x yang ada didaerah Jakarta Barat. Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku berada dipanti werdha ini. Dimana panti ini merupakan tempat penampungan oma-opa. Tempat ini lumayan luas dan cukup bersih. Belum lagi fasilitas yang mereka sediakan untuk menjaga dan merawat oma-opa ini terbilang cukup memadai, serta pelayanannya cukup baik.

Pada saat itu, tujuan kami hanyalah untuk mengecek tempat dan membina raport saja, sedangkan untuk pengambilan data, kami memutuskan untuk melakukannya dilain waktu saja. Lalu, kami mempunyai ide mengajak oma-opa untuk bermain games dengan menggunakan balon. Jadi, permainannya itu satu balon untuk 2 orang. Dimana balon tersebut harus berada ditengah-tengah kepala, dihimpitkan dikening. Kemudian, saat musik diputar, pasangan tersebut harus berjoget sampai musiknya berhenti dengan kondisi balon tidak boleh jatuh kebawah lantai. Jika balon jatuh, maka kedua peserta dianggap kalah dan bagi yang masih bertahan hingga lagu berhenti akan dinyatakan sebagai pemenang.

Aku sangat menikmati waktu dimana bisa bermain bersama dengan oma dan opa. Senang rasanya melihat antusias dari mereka, belum lagi dari wajah mereka terpancar senyum bahagia, dan sesekali mereka turut tertawa menikmati permainan yang mereka mainkan. Namun, dibalik semua itu, ada satu orang yang menurutku tidak menunjukkan ekspresi apapun, yang kutemukan dalam wajahnya hanya pandangan kosong dan datar. Tanpa menunggu waktu yang lama, aku pun langsung berjalan menghampiri oma tersebut.

Sesampainya didekat oma, aku langsung memberikan senyum manisku padanya. Beliau juga langsung merespon dengan membalas senyumku. Dengan segera, aku pun langsung melihat tempat duduk yang ada disekitar kami, berharap masih ada tempat yang kosong. Benar, melihat masih ada bangku yang kosong dibagian belakang oma, aku langsung menarik bangku tersebut dan kuletakkan tepat disebelah kanan oma. Lalu, aku meminta izin untuk duduk disamping beliau. Oma tersebut langsung menganggukkan kepalanya, memberi arti padaku bahwa dia setuju.

Aku pun makan bersama dengan beliau. Pada waktu itu, aku memilih untuk diam dahulu karena melihat diraut mukanya ada bekas airmata. Jadi, aku hanya diam dan sesekali mencuri pandang untuk memandang wajahnya. Beberapa menit kemudian, oma tersebut mengajakku untuk berbicara. Diluar bayanganku, oma tersebut sangatlah bersahabat dan termasuk tipe yang suka bercerita. Dimulai dari hal kecil, dia menanyakan namaku, umurku berapa, berapa bersaudara, tinggalnya dimana, kuliahnya dimana, dan ambil jurusan apa. Aku langsung cepat menjawab setiap pertanyaan yang diberikan padaku. Tiba-tiba, disela-sela obrolan kecil kami tersebut, oma tersebut mengeluarkan airmatanya. Aku meletakkan makananku dan langsung mengambil tissue yang ada didalam tasku dan kuberikan pada oma. Refleks, aku langsung memegang tangannya dan memegang pundak oma. Detik itu juga, dengan nada yang lirih dan suara yang sangat kecil, oma menceritakan mengenai keluarganya. Aku tidak banyak bertanya, oma itu sendiri menceritakan semuanya dengan panjang lebar.

Mendengar cerita dari oma tersebut, aku juga turut merasakan bagaimana perasaan oma, betapa sedih, sakit, dan kekecewaan yang dirasakannya. Dia boleh menangis, dia boleh mengekspresikan emosinya, bahkan dia juga boleh berteriak jika dia mau. Namun, aku, aku tidak boleh kelihatan lemah didepannya, kutahan airmataku yang hampir mau jatuh. Bukan dilarang untuk menangis, cuma kalau dua-duanya menangis siapa yang akan menghibur diri kami. Bukannya begitu?.

Oma bercerita bahwa dia hanya memiliki satu orang anak, puteranya tersebut sudah menikah dan memiliki anak. Oma juga sudah memiliki 2 orang cucu perempuan. Oma menceritakan semuanya dengan cukup jelas, dia bercerita juga bagaimana awalnya dia bisa sampai tinggal dipanti.

Dulu, sebelum dipanti, sehari-harinya oma hanya dirawat oleh seorang perawat dan sesekali cucunya masuk kedalam kamarnya untuk bermain dengannya. Meskipun berada dirumah sendiri, oma merasakan kesepian karena sehari-harinya anak dan menantunya sibuk bekerja dan hampir tidak ada waktu untuk bertemu dengannya dirumah.

Melihat kondisi rumah yang terus-terus seperti itu dari tahun ke tahun dan tidak ada yang namanya perubahan, akhirnya oma mulai menanyakan pada perawat mengenai tempat panti jompo. Dengan berbagai kriteria dan berbagai tempat yang sudah disurvei secara langsung oleh oma dan perawatnya, singkat cerita oma memutuskan untuk tinggal dipanti.

Suatu ketika, saat semuanya sedang berkumpul bersama untuk makan malam, oma mengeluarkan suara dan mengatakan keinginannya tersebut. Oma mengatakan bahwa dia ingin tinggal dipanti dan dia sudah mendapatkan panti yang sesuai dengan keinginannya. Pada saat oma mengatakan hal tersebut, semuanya diam dan memang tidak ada yang langsung menjawab serta memberikan komentar. Namun, setelah makan malam selesai, anaknya mulai angkat bicara membahas mengenai keinginan mamanya tersebut. Tidak ada penolakan yang diterimanya pada saat itu. Memang, pergi ke panti adalah keinginan sang oma, namun dia berharap bahwa masih ada keluarganya yang mencegahnya ataupun membujuknya untuk tetap tinggal dirumah. Namun, yang diterimanya malah sebuah persetujuan. Sedih, iya, sangat sedih, detik itu juga hatinya langsung teriris mendengarkan perkataan anaknya. Oma langsung berpikir bahwa barangkali memang benar dugaannya selama ini bahwa dirinya memang tidak diharapkan untuk berada dirumahnya dan dia telah banyak menyusahkan keluarganya. Mungkin juga, semuanya sudah mulai kewalahan merawat dirinya.

Akhirnya, waktu yang tidak ditunggu itu tiba. Waktu dimana oma akan tinggal selamanya di panti. Disepanjang perjalanan, dia masih memikirkan ulang mengenai keinginannya tersebut, dia juga masih menunggu, barangkali ada salah satu dari keluarganya yang membujuknya untuk membatalkan keinginannya, maka dia akan membatalkan keinginannya tersebut. Apa daya, bahkan sesampainya disana, tidak ada satu suara pun yang mencoba untuk menghalanginya.

Setibanya dipanti, sang anak langsung menurunkan semua barang oma. Sebelum pergi meninggalkannya, sang anak menitip pesan pada mamanya. Sang anak mengatakan bahwa mamanya harus menjaga kesehatan selama dipanti dan dia (anaknya) berjanji akan berkunjung ke panti setiap hari sabtu dan minggu. Setelah menyampaikan hal tersebut, mereka langsung pergi keluar dari panti menuju mobil. Tidak lupa, keluarganya juga mengucapkan kata perpisahan pada oma. Pada saat itu, tidak ada airmata yang keluar, oma hanya bisa tersenyum melihat semua yang terjadi.

Memang, ini adalah pilihan oma sendiri untuk tinggal dipanti. Oma harus kuat. Waktu demi waktu sudah dilalui dengan cukup baik oleh oma. Sebenarnya, berada dipanti tidak cukup buruk karena orang-orang yang didalam adalah orang yang sama seperti dengan dirinya pikir oma pada saat itu. Tapi, seiring berjalannya waktu, ntah mengapa oma merasakan seperti ada yang kurang, ya, yang kurang itu adalah keluarga kecilnya tersebut. Oma pun selalu menunggu waktu, berharap besok adalah hari Sabtu, waktu dimana oma akan bertemu dengan keluarganya.

Waktu yang ditunggu itu pun tiba. Benar, siang hari itu sang anak, menantunya, dan cucunya datang untuk mengunjunginya. Melihat kedatangan keluarganya, oma pun langsung berlari menghampiri mereka. Ternyata, puteranya benar menepati janjinya, pikir oma pada saat itu. Sesuai dengan janji anaknya, setiap minggu, anaknya benar datang mengunjunginya bersama dengan keluarganya yang lainnya.

Setiap pertemuan yang mereka lalui selalu ditandai oma dikalendernya. Suatu ketika, tiba waktu dimana sang anak sama sekali tidak datang untuk mengunjunginya. Awalnya, oma berpikir barangkali sang anak sibuk. Namun, sudah sampai minggu keempat, tidak ada satupun keluarganya yang mengunjunginya. Oma pun mulai menangis diam-diam didalam kamarnya. Benar dugaan oma selama ini, bahwa semua itu tidak akan bertahan lama. Dipikir-pikir, semuanya itu hanya bertahan dalam waktu 4 bulan saja, memasuki bulan yang kelima sang anak sama sekali tidak pernah main lagi ke pantinya.

Jadi, alasan oma mengapa sedih didepanku karena oma sangat terharu, senang, dan bangga dengan aku dan teman-temanku yang lainnya. Disaat anak-anak muda yang lain mungkin sibuk untuk mengurus urusan mereka masing-masing dan berkeliaran untuk menghabiskan uang orangtua dengan tidak jelas, kami malah melakukan kegiatan yang berbeda. Meskipun ini salah satu tugas dari kampus, cuma oma sangat senang mengenai kegiatan yang kami lakukan karena berdampak positif bagi diri oma sendiri.

Sebelum berpisah dengan oma, oma mengatakan bahwa dia berharap masih bisa bertemu dengan kami kembali dan berharap agar kami tidak bosan untuk mengunjungi tempat-tempat sosial lainnya. Tidak lupa, oma juga mengucapkan terimakasih padaku karena sudah mau meluangkan waktu untuk mau mendengarkan segala ceritanya. Belum pernah ditemukan suasana yang hidup seperti ini lagi.

Oma mengatakan bahwa kedatangan kami menjadi suatu penyemangat yang baru dalam dirinya. Selanjutnya, oma berpesan padaku untuk jangan lupa untuk menghubungi keluarga yang dikampung karena keluarga itu merupakan hal yang utama didalam hidup. “Kamu baik, nak, pasti kamu sayang sama orang yang dirumah juga kan, sesekali jangan lupa juga untuk menghubungi mereka ya.. Kelak, jika kedua orangtuamu sudah tua, jangan kamu tinggalkan sendirian dirumah, sekalipun mereka mungkin bercanda mengatakan ingin kepanti, janganlah kamu mengiyakan keinginannya tersebut, karena sebenarnya itu hanya ucapannya saja.. Sayangi mereka dan berikan sedikit waktumu padanya disela-sela kesibukanmu nanti, nak”, begitulah seingatku pesan oma kepadaku.

Tidak terasa, ternyata seharian penuh sudah kuhabiskan waktuku dipanti werdha. Lelah dan cape memang, tapi semua terbayarkan dengan pembelajaran yang kudapatkan selama disana. Banyak hal yang bisa kupetik saat aku berada dipanti, salah satunya arti kebersamaan dan arti dari sebuah keluarga itu sendiri.

Pada dasarnya, orang yang kelihatan kuat diluar belum tentu kelihatan baik-baik saja didalamnya. Sama halnya dengan ucapan, sekalipun yang keluar adalah hal yang buruk, sebenarnya itu bukanlah yang ingin kita ucapkan. Semuanya karena emosi, keras kepala, dan suasana hati yang buruk kita jadi tidak bisa mengatur perasaan, perkataan, dan tingkah laku kita. Tanpa kita sadari juga, saat kita sibuk untuk mengurus urusan dan masalah kita sendiri, kita suka lupa waktu dan melupakan hal-hal penting yang ada disekitar kita. Mungkin kita lupa bahwa ada seseorang yang suka memperhatikan kita dan diam-diam memberikan perhatian pada kita. Tapi yang kita lakukan adalah cuek dan tidak mempedulikan hal tersebut. Sama halnya dengan keluarga, mungkin saat kita senang dan bahagia, kita sejenak melupakan mereka, kita hanya mencari mereka diwaktu-waktu kita sedih saja. Kita lupa bahwa dari keluargalah kita mendapatkan semuanya.

Dari keluarga kita mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Berapa uang dan waktu yang sudah dihabiskan oleh kedua orangtua kita untuk menjaga, mengasuh, dan membesarkan kita? semuanya itu tidak bisa dibeli dan terbayarkan. Kita harus ingat kalau kita bisa sukses, bisa kaya, bisa mendapatkan itu semua, semuanya itu tidak lepas dari doa kedua orangtua kita. Tanpa kita sadari, disaat kita sedih dan tidak kuat, kita larinya pada mereka. Namun, disaat mereka membutuhkan kita, apakah kita masih menyisihkan sedikit waktu kita untuk mereka? Apakah kita sempat untuk menanyakan bagaimana kabar mereka? Apa kita tahu situasi apa yang sedang mereka hadapi saat ini, apakah itu berat? apakah mereka sedang mengalami kesusahan? Atau mereka sedang sakit? tapi mereka diam dan hanya bisa menyembunyikannya rapat-rapat karena tidak mau membuat kita khawatir atau bahkan bisa menganggu kerjaan kita.


"Keluarga adalah alasan kenapa kita bekerja selama 5 hari setiap minggunya. Maka, diakhir minggu, luangkanlah waktu bersama mereka"

- Merry Riana


Orangtua tidak meminta uang, tidak meminta harta kekayaan, tidak juga meminta jabatanmu yang harus tinggi. Tidak, sama sekali tidak. Kalaupun sukses, itu untuk dirimu sendiri, kamu yang menikmatinya. Dia hanya meminta sedikit waktu kita, berharap sesekali akan menghubungi mereka. Terkadang, mungkin kita berpikir kenapa tidak orangtua saja yang menghubungi kita? atau mengapa orangtua kita mulai jarang menghubungi kita? Merekanya saja yang sibuk. Salah, semuanya salah, ketahuilah, bahwa orangtua itu tahu secara dalam mengenai diri anak-anaknya, mari kita renungkan sejenak bagaimana diri kita yang sebenarnya. Bagaimana sikap kita, perkataan kita, dan respon kita saat beliau menghubungi kita? apakah bahagia? atau mungkin, mungkin saja kita jarang mengangkat telepon dari mereka, kalaupun kita angkat mungkin itu waktunya cukup lama untuk kita menjawab telepon dari mereka. Lalu, bagaimana selanjutnya? apakah suara kita ceria, atau jangan-jangan kita cuek dan ogah-ogahan?. Mari kita pikirkan baik-baik dan renungkan sejenak, bagaimana menurutmu sendiri, apakah sudah benar yang kita lakukan selama ini? begitukah sikap kita yang seharusnya sebagai seorang anak?? Jika menurutmu benar, siapkah suatu saat nanti kita diperlakukan seperti itu juga dengan buah hati kita kelak?? Jika tidak, berubahlah, bangkitlah dan berdirilah, ubahlah sikap kita, dia masih menunggu, dia masih menantimu, dan dia akan terus membuka pintu maaf karena dia memaafkanmu dan sangat menyayangimu, buah hatinya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bahagia itu Sederhana, Ini Kisahku Saat Mengunjungi Panti dan Berbagi Cinta". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Silahkan login untuk memberi komentar