CONTRIBUTOR

Lihat semua
LIFE & HAPPINESS
Ngabubu-read Ramadan: 5 Novel tentang Wajah Indonesia yang Masih Seru Dibaca Ulang
2.9K
Ada ngabuburit, ada ngabubu-read. Ya, menanti waktu berbuka puasa dengan novel-novel seru buat dibaca!

Pecinta buku di Indonesia tak pernah hilang akal menikmati bacaannya, salah satunya dengan mengikuti trend ngabubu-read, yakni menantikan waktu adzan maghrib untuk berbuka puasa bersama buku-buku kesayangannya. Apakah kamu juga salah satu kutu buku yang kerap melakukan hal sama? Jika habis ide bacaan, 5 novel tentang wajah Indonesia ini masih seru lho, buat dibaca ulang. Simak yuk selengkapnya!

1. Rumah di Seribu Ombak - Gagasmedia, 2012

Photo Credit: idenyaandi

Keberagaman budaya, persatuan dalam perbedaan, serta konflik-konflik yang menyertainya terangkum apik dalam novel karya sutradara Erwin Arnada. Selama mendekam di rutan Cipinang karena kasus majalah yang diprakarsainya, Erwin telah menelurkan 3 karya dan Rumah di Seribu Ombak adalah salah satunya. Novel terbitan Gagasmedia tahun 2012 ini berkisah tentang Yanik dan Samihi yang berkawan akrab meski berbeda keyakinan. Satunya Hindu, satu lagi Muslim. Satunya takut air, satunya amat menyukai pantai. Mengambil latar di Pantai Lovina yang sangat indah, keduanya saling mendukung dan menguatkan dalam menggapai impian. Bahkan, dikisahkan pula Yanik yang penganut Hindu membantu Samihi memenangkan perlombaan membaca Al Quran, dan Samihi rela mengorbankan janjinya untuk menjaga rahasia karena menolong Yanik. Sungguh potret indahnya perbedaan dituturkan dengan bahasa manis nan memikat.

“Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu.”—Rumah di Seribu Ombak

2. Kronik Betawi - Gramedia, 2009

Photo Credit: Tokopedia

Novel karya Ratih Kumala ini menyajikan cerita tentang keluarga Betawi zaman dahulu dari masa eyang hingga cucu. Kehidupan sehari-hari masa kompeni sampai tergusur modernisasi dikisahkan secara rinci, mengalir, namun tanpa meninggalkan unsur kocak yang membuat pembaca ingin melahapnya sampai tuntas. Bahasa tutur Betawi yang lugas, tegas, polos, dan apa adanya kerap dimunculkan dalam dialog antar tokoh sehingga pembaca tergelak dan terenyuh dalam waktu yang sama. Sungguh, pembaca seolah membaca Jakarta masa silam lewat kacamata seorang Ratih Kumala.

“Emang orang Betawi itu tukang kawin ye? Aye kagak setuju kalo ini dibilang tradisi!”—Kronik Betawi

3. Tarian Bumi - Gramedia, 2000

Photo Credit: Alfiyah Nurhida/Instagram

Kata orang, membaca novel Tarian Bumi berarti kita telah membaca wajah Bali. Oka Rusmini dalam Tarian Bumi menuturkan secara gamblang tentang perempuan sudra yang ingin menikah dengan lelaki brahmana karena bosan hidup miskin dan tidak dihargai masyarakat. Luh Sekar—nama wanita tersebut adalah penari cantik yang berdoa tanpa henti hingga keinginannya terwujud dengan dipersunting Ida Bagus Ngurah Pidada dan diberi gelar Jero Kenanga. Namun, sang mertua—Ida Ayu Sagra Pidada—tidak bisa menerima pernikahan tersebut hingga akhir hayatnya. Cerita bergulir hingga Luh Sekar melahirkan bayi bernama Ida Ayu Telaga Pidada yang juga harus menjadi penari hebat hingga dipanggilkan guru terbaik bernama Luh Kambren. Saat besar, Luh Sekar pun berharap Telaga dipersunting lelaki brahmana agar tidak turun kasta. Namun sayang, Telaga justru jatuh hati pada lelaki sudra yang menjadikan ia bahan perbincangan seisi griya. Telaga dan kekasihnya, Wayan Sasmitha, akhirnya menikah tanpa restu keluarga hingga dikaruniai anak perempuan bernama Luh Sari. Suatu ketika, suami Telaga meninggal dan menimbulkan nasib buruk serupa malapetaka untuknya. Adik ipar Telaga selalu mengganggunya, dan Luh Gumbreng—mertuanya—menuduh Telaga sebagai pembawa sial hingga memaksa ia melakukan upacara patiwangi untuk melepas statusnya sebagai seorang brahmana agar bebas dari kutukan. Dengan berurai air mata, Telaga menyanggupi upacara tersebut. Ia pun menjadi wanita sudra seutuhnya.

“Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.”—Tarian Bumi

4. Kambing dan Hujan - Bentang Pustaka, 2015

Photo Credit: Annisa Dwinda Fatimah/Instagram

Mahfud Ikhwan menulis Kambing dan Hujan sebagai kritik sosial atas fenomena yang terjadi di masyarakat; tentang pergesekan NU dan Muhammadiyah yang merupakan dua ormas terbesar di Indonesia. Cerita bermula saat Miftah dan Fauzia saling jatuh cinta. Miftah adalah anak dari Pak Iskandar dari jamaah masjid utara (Muhammadiyah) sementara Fauzia adalah anak dari Pak Fauzan yang merupakan tokoh penting di masjid selatan (NU). Meski hanya berjarak dekat, namun kedua kubu seolah terpisah benteng tinggi yang menjadikan mereka saling hina, saling ejek, dan merasa paling benar dalam beribadah, misalnya beda mengawali Ramadan, menentukan Lebaran, aturan melaksanakan salat subuh, hingga jumlah rakaat salat tarawih. Berbagai kisah sedih berujung bahagia bergulir, nyatanya semua berasal dari masalah hati yang tersakiti, yakni karena Hidayatun—ibu Fauzia—dulunya adalah wanita yang dicintai ayah Miftah. Dituturkan dengan bahasa yang mudah dipahami, potret sosial disajikan dengan sangat membumi. Atas kesuksesannya menghadirkan roman religi yang luar biasa, novel ini diganjar penghargaan sebagai Juara Pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Konon, banyak penggemar menyebut Kambing dan Hujan adalah kisah Romeo dan Juliet versi Islam. Ya, kamu harus membaca ulang!

"Anak memang sering tak mau melibatkan ibunya dalam masalahnya. Mungkin karena si anak tak ingin ibunya ikut susah. Mungkin juga karena si anak tak yakin ibunya bisa membantu. Tapi, Mif, Anakku, seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya."—Kambing dan Hujan

5. Puya ke Puya - KPG, 2015

Photo Credit: Penerbit KPG/Instagram

Setelah melihat wajah Bali, Betawi, dan Pulau Jawa, yuk bergeser ke Pulau Sulawesi di mana kisah Puya ke Puya bermula. Keunikan tema, kerumitan tradisi, berpadu dengan kepiawaian Faisal Oddang—penulisnya membuat Puya ke Puya juga diganjar penghargaan yakni Juara Keempat Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Berkisah tentang upacara kematian di Tana Toraja, tentang seorang Rante Ralla—seorang pemuka adat dengan derajat luar biasa. Karena derajat itu, Rambu Solok harus digelar besar-besaran dengan mengorbankan kerbau belang dan banyak babi agar Ayah atau Ambe mampu mencapai puya (surga) dengan sempurna. Karena biaya sangat mahal sementara harta tak cukup untuk menggelar, maka terjadilah konflik panjang ditambah silang sengkarut mengenai tambang nikel yang menggusur tongkonan Rante Ralla untuk pelebaran jalan. Masalah seputar politik, tambang, bertabrakan dengan wisdom lokal menjadi isu yang menarik untuk diangkat. Tak hanya itu, konflik cinta juga dimunculkan melalui kisah arwah bayi-bayi di pohon Tarra. Faisal Oddang memang penulis muda cemerlang dengan talenta penulisan luar biasa.

“Kebudayaan adalah produk manusia, manusia dan kebudayaan itu dinamis sesuai ruang dan waktu. Dan relevansi dengan zaman sangat penting sebagai acuan untuk mempertahankan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan itu. Acuan untuk tetap melakukan atau tidak, dan saya pikir zaman sudah tidak relevan dengan yang kalian pertahankan.”—Puya ke Puya

Nah, itulah kelima novel luar biasa tentang wajah Indonesia yang sudah terbit cukup lama dan masih seru dibaca ulang, terutama sambil menunggu waktu berbuka.

BACA JUGA


Ngabuburit sudah biasa, ngabubu-read yuk biar makin bertambah wawasannya!

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ngabubu-read Ramadan: 5 Novel tentang Wajah Indonesia yang Masih Seru Dibaca Ulang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Silahkan login untuk memberi komentar

imsolucky shop | @imsoluckyshop

nice nice nice nice