CONTRIBUTOR

Lihat semua
INDONESIA & I
Pendidikan Inklusi, Angin Segar atau Angin Ribut?
227
Masih pantaskah anak berkebutuhan khusus mengenyam pendidikan reguler?

Hampir semua quote tentang dunia pendidikan memaparkan bahwa pendidikan itu penting. Gerbang menuju kesuksesan. Saya juga setuju, walau nilai akademis saya gak pernah oke-oke banget. Tapi, masalahnya, kalau beberapa anak mengalami gangguan atau kelainan tertentu sehingga menyandang gelar sebagai anak berkebutuhan khusus, masih pantaskah dia mengenyam pendidikan?

Beberapa tahun lalu saya memikirkan itu. Anak berkebutuhan khusus berhak sekolah kok, di Sekolah Luar Biasa. Eh, beberapa ABK masa kini bahkan sudah menembus batas mereka sendiri—mereka pergi ke sekolah-sekolah reguler dan ngotot menuntut ilmu bersama anak-anak normal lainnya. Pertanyaannya, tepat atau keliru?

Setidaknya buku ini mengupas beberapa hal mengenai pendidikan inklusi—sistem pendidikan yang memberi kesempatan untuk anak-anak berkebutuhan khusus untuk sekolah di sekolah reguler bersama anak-anak normal lainnya dan dibimbing oleh guru-guru sekolah umum. Tidak pernah mudah, tapi banyak jurnal meyakinkan saya bahwa sistem pendidikan inklusi merupakan angin segar bagi para orangtua yang memiliki anak dengan kelainan tertentu. Seperti penelitian yang dilakukan Waldron, Nancy, dan James McLeskey pada tahun 2010. Penelitian dengan judul The Effects of an Inclusive School Program on Students with Mild and Severe Learning Disabilities tersebut menguji perbedaan kemajuan atau perkembangan anak yang mengalami kesulitan belajar yang dimasukkan dalam program sekolah inklusi dan tidak. Subjek penelitiannya adalah 71 orang anak kelas 2-6 yang mengalami kesulitan belajar dari 3 sekolah dasar yang menerapkan program inklusi. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa sekolah inklusi yang mengalami kesulitan belajar mengalami kemajuan yang sangat signifikan dalam hal membaca dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti program inklusi.

Pendidikan inklusi selalu menjadi harapan sekaligus mimpi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Bisa sekolah di sekolah reguler, dididik oleh guru-guru sekolah umum, dan bergaul dengan anak-anak normal, menjadi impian yang kelihatannya sulit diraih oleh anak-anak tersebut. Dipandang sebagai angin segar, walau faktanya, angin ributnya tidak kalah ganas. Banyak tantangan yang mendahului, sebelum mereka sukses belajar di sekolah reguler. Kesulitan mengikuti ritme belajar anak normal hingga mengalami diskriminasi jadi harga mahal yang harus dibayar demi bisa masuk ke gerbang pendidikan formal reguler.

Semoga buku ini menjadi teman untuk merenung dalam-dalam soal kehidupan sekolah anak berkebutuhan khusus. Karena faktanya, setiap orang berhak sukses. Dan berhak mendapat pendidikan yang layak.


BACA JUGA


Jangan Hanya Jadi Mahasiswa Biasa di Kampus! Yuk Coba Lakukan 5 Hal ini Agar Masa Kuliahmu Lebih Berwarna

Jangan Hanya Jadi Mahasiswa Biasa di Kampus! Yuk Coba Lakukan 5 Hal ini Agar Masa Kuliahmu Lebih Berwarna

Jangan sia-siakan kesempatanmu duduk di bangku kuliah, menjadi sia-sia hanya karena kamu tetap diam dan tidak mewarnai masa kuliahmu dengan ...

Read more..

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pendidikan Inklusi, Angin Segar atau Angin Ribut?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Silahkan login untuk memberi komentar